G
N
I
D
A
O
L

Madin Salafiyah al-Ma’arif

Sebelum diterapkannya sistem klasikal, Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil (yang dulunya dikenal dengan sebutan “Pesantren Demangan”) hanya menggunakan sistem pengajaran tradisional berupa sorogan dan wetonan. Perubahan besar terjadi pada masa kepengasuhan KHS. Abdullah Schal, seorang tokoh berpandangan cemerlang yang mulai menerapkan sistem pengajaran klasikal demi menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat di masa depan.

Berikut adalah garis waktu penjenjangan Madrasah Diniyah Salafiyah al-Ma’arif:

  • Tahun 1986 (Tingkat Ibtidaiyah) KHS. Abdullah Schal resmi menerapkan sistem pengajaran klasikal untuk madrasah tingkat Ibtidaiyah dengan mendirikan Madrasah Diniyah Salafiyah al-Ma’arif.

  • Tahun 1989 (Tingkat Tsanawiyah) Madrasah Diniyah Salafiyah al-Ma’arif memperluas jangkauan pendidikannya dengan membuka jenjang Tsanawiyah.

  • Tahun 1992 (Tingkat Aliyah) Akselerasi pendidikan keagamaan terus ditingkatkan dengan dibukanya jenjang Aliyah Tarbiyatul Mu’allimin. Pada tahun yang sama, pesantren juga mulai merambah ke sektor formal dengan membuka MTs al-Ma’arif.

Perkembangan Metode Pendukung Madrasah

Di bawah kepengasuhan berikutnya, yaitu RKH. Fakhrillah Aschal, program diniyah klasikal ini terus dilengkapi dengan metode akselerasi membaca kitab kuning guna memaksimalkan kualitas keilmuan santri:

  • Tahun 2009: Dibuka jenjang pendidikan I’dadiyah (persiapan/dasar) menggunakan metode Amtsilati bagi santri baru.

  • Tahun 2011: Untuk madrasah I’dadiyah putra, metode Amtsilati digantikan dengan metode al-Miftah Lil Ulum (bekerja sama dengan Ponpes Sidogiri), sementara madrasah I’dadiyah putri tetap mempertahankan metode Amtsilati.

Langkah bertahap dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah inilah yang menjadi fondasi kuat pesantren sebelum akhirnya berkembang lebih luas mendirikan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) tingkat Wustha dan Ulya di kemudian hari.